11 Mahasiswa FISIP UGJ Pelajari Komunikasi Tim di Dompet Dhuafa Cirebon
Cirebon, – Sebanyak 11 orang mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi Ilmu Komunikasi melakukan Kunjungan ke Dompet Dhuafa Cirebon.
Mahasiswa tersebut yaitu Giza Nanda Tivanka, Sarifhatul Aini Yuliyus Putri, Moza Al Zahrani Firdaus, Elena Dwi Rostanti, Resna Amelia, Sofhia Asni Shania, Miastuti, Indah Nurilah, Ikah Marikah, Lutfi Nur Baity, Melsa Adiyah dengan dosen pembimbing Dedet Erawati, S.I.Kom., M.I.kom. Observasi ini dilakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Organisasi. Kegiatan ini dilakukan mengetahui bagaimana cara komunikasi kerja tim dijalankan di Dompet Dhuafa.
Dompet Dhuafa merupakan Lembaga non-profit yang menghimpun dana zakat, infaaq, sedekah, dan juga Waqaf. Dompet Dhuafa berdiri sejak tahun 1993 dan sudah memiliki 5 cabang di luar negri. Untuk Wilayah Cirebon sendiri merupakan kantor unit yang mencakup wilayah Ciayumajakuning.
Menurut Penjelasan dari Mas Muhamad Fauzian Firdaus selaku staf Promotion dan Networking, Dompet Dhuafa memiliki 4 pilar utama yaitu: (1) Ekonomi, (2) Sosial Dakwah, (3) Budaya, (4) Pendidikan.
Untuk kawasan Cirebon dan sekitarnya, mereka menjalankan sejumlah program pemberdayaan seperti kursus menjahit untuk pendidikan keterampilan, pengembangan usaha produk Siwang atau terasi bawang di Desa Setu Kulon, pembinaan kampung ternak di Indramayu, serta pendampingan pengrajin rotan di Majalengka yang produknya sudah diekspor ke luar negeri.
Dompet Dhuafa juga rutin menggelar program bantuan sosial unggulan seperti santunan untuk anak yatim dan program khusus penyandang disabilitas, khususnya saat bulan Ramadan.
Hal yang cukup menarik adalah meski staf tetap di kantor Cirebon hanya berjumlah dua orang, komunikasi dan kerjasama tim tetap berlangsung efektif dengan didukung oleh relawan Dompet Dhuafa Volunteer (DDV).
Menurut (Dyne & LePine, 1998) seberapa jauh karyawan mau berbagi atau memilih untuk tidak menyampaikan informasi penting seperti gagasan, masukan, atau masalah yang mereka hadapi sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan dan kinerja organisasi.
Relawan-relawan ini memiliki latar belakang yang beragam, yaitu mahasiswa dan masyarakat umum. Dengan menjalankan komunikasi secara terbuka dan dua arah yang diterapkan di setiap tahapan mulai dari perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi.
Untuk mengelola perbedaan pandangan, Dompet Dhuafa membudayakan diskusi terbuka melalui briefing dan sesi brainstorming. Seluruh anggota tim memiliki kesempatan yang setara untuk menyampaikan pemikiran dan pandangan mereka tanpa adanya paksaan kehendak. Keputusan yang diambil adalah hasil dari musyawarah bersama.
Dompet Dhuafa menekankan bahwa komunikasi adalah kunci kesuksesan dalam pelaksanaan seluruh program. Baik komunikasi di lingkungan internal tim maupun komunikasi dengan pihak eksternal seperti masyarakat dan stakeholder termasuk aparat desa, semuanya diatur secara sistematis dan dengan sikap saling menghargai. Pendekatan ini sangat diperlukan untuk menghindari miskomunikasi dan memastikan program dapat berjalan lancar serta tepat pada sasaran. (*)
Disclaimer : Artikel ini merupakan kiriman dari penulisan untuk tugas kuliah. Redaksi tidak terkait dengan materi konten ini.














