Menilik Jalan Karanggetas Pusat Penjualan Tembakau Terbesar di Cirebon

Menilik Jalan Karanggetas Pusat Penjualan Tembakau Terbesar di Cirebon

Bisniscirebon.com: Masa lalu indah untuk di kenang, kita dapat belajar dari kehidupan masa lalu.

Karanggetas Cirebon sejak tahun 1920-an adalah pusat perdagangan yang ramai, mulai dari belokan Sukalila sampai belokan perempatan Jagabayan, Winaon, Pasuketan dan Pekiringan, jadi pusat perdagangan. Disama ada yang menjual Furniture yaitu Kong Hap Lie, dulu Karanggetas belokan Sukalila umumnya menjual furniture dan toko bahan bangunan, Rumah Makan Ketjil, Kopyor, Toko Jamu, Toko Emas, dan Tembakau.

Menurut Budayawan Cirebon – Tionghoa Jeremy Huang Wijaya, sejak tahun 1925-1990 Jalan Karanggetas mulai dari ex-Korem kini Yogya Grand adalah pusat perdagangan yang ramai. Banyak warga yang menjual tembakau dan emas di daerah tersebut.

“Ada Toko Tembakau IK, ada Toko Tembakau Kambing Bunga, Toko Tembakau Matahari, Toko Tembakau GS, dan lainnya,” katanya, Selasa (17/6/2025).

Kakek Penulis bernama Kwee Kwan Soen dari Pekalongan tahun 1920 merantau ke Cirebon membuka toko tembakau dan jamu tradisional Nyonya Idep di Pasar Pagi Cirebon.

“Tembakau menjadi komoditas perdagangan yang menguntungkan bagi warga di daerah tersebut, apalagi dekat dengan pelabuhan. Dan dekat dengan Pelabuhan di bangun Gedung British American Tobacco Cirebon pada 1924,” imbuhnya.

Dalam surat kabar, Algemeen Handelsblad edisi 8 Maret 1925, misalnya. Disebutkan, rencana pembangunan gedung sudah ada sejak tahun 1923 oleh perusahaan British American Tobacco Company.

“Dalam surat kabar Algemeen Handelsblad edisi 8 Maret 1925 dituliskan bahkan mungkin tidak diketahui oleh sebagian besar pembaca kami bahwa British American Tobacco Company , salah satu grup manufaktur rokok global terbesar, beroperasi di sebagian besar negara di Eropa, serta di Amerika Utara dan Selatan, Mesir, Afrika Selatan, Australia, New Selandia dan Cina memiliki pabrik rokok yang besar, dan sejak akhir tahun 1923 sebuah pabrik telah didirikan di Cheribon,” tuturnya.

Kala itu yang menjadi cikal bakal dari gedung BAT adalah sebuah pabrik bernama SS Michael. Lewat pembangunan gedung BAT mereka berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi rokok dari 8.000 batang per menit menjadi 56.000 batang per menit. Setelah pabrik SS Michael dibeli, lewat jasa biro arsitek F.D Cuypers dan Hulswit, gedung BAT dibangun dengan gaya arsitektur Art Deco, sebuah gaya arsitektur bangunan yang populer pada masa itu.

“Dagang Tembakau paling menguntungkan saat itu. Orang tua Tjun Tjun legenda bulu tangkis juga jualan tembakau. Tetapi sekitar tahun 1990 toko tembakau mulai sepi karena banyak yang beralih ke rokok kretek, dulu umumnya toko tembakau juga menjual kawung sebagai pembungkus tembakau,” ujarnya.

Di jalan karanggetas juga banyak yang menjual jamu tradisional.

“Itulah kenangan tentang jalan Karanggetas Cirebon,” pungkasnya.(Regina)

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *