Warga Argasunya Waswas, Tebing Kali Benda Terus Terkikis
Cirebon,- Ancaman longsor terus membayangi warga Kelurahan Argasunya, khususnya mereka yang bermukim di sepanjang aliran Kali Benda. Setiap kali hujan deras mengguyur dan debit air sungai meningkat, kekhawatiran akan terjadinya longsor tak terhindarkan.
Kondisi ini dipicu oleh tidak adanya tanggul atau pengaman di sepanjang bantaran Kali Benda yang melintasi wilayah Argasunya. Padahal, struktur kiri dan kanan sungai berupa tebing curam dengan ketinggian sekitar 10 meter, sementara di bagian atasnya berdiri permukiman warga.
Tanpa adanya penahan tebing, aliran air secara perlahan menggerus tanah bantaran sungai. Situasi tersebut membuat wilayah yang dilewati Kali Benda menjadi kawasan rawan longsor, terlebih saat intensitas hujan tinggi.
Dampak nyata sudah mulai dirasakan warga. Salah satu jembatan penghubung di RT 04 RW 07 Sumurwuni mengalami pengikisan di bagian bawah konstruksinya.
Demi keselamatan, warga terpaksa menutup akses jembatan yang selama ini menjadi jalur utama menuju wilayah seberang.
Lurah Argasunya, Mardiansyah mengatakan persoalan tersebut bukan hal baru. Keluhan warga terkait kondisi bantaran Kali Benda, menurutnya, sudah berlangsung bertahun-tahun dan telah disampaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung.
“Dari laporan para RW, pengajuan penanganan ini sudah dilakukan sejak 2020, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar Mardiansyah, Rabu (7/1/2025).
Ia menambahkan, pihak kelurahan kembali mengajukan usulan perbaikan, termasuk untuk jembatan yang terancam rusak, pada tahun 2023. Namun hingga kini, realisasi yang diharapkan belum juga terwujud.
“Sudah kami ajukan ulang pada 2023, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” katanya.
Menurut Mardiansyah, Kali Benda membentang lebih dari dua kilometer di wilayah Kelurahan Argasunya, mulai dari Jembatan Lebak Ngok hingga kawasan Masjid Kalilunya dan Kedung Krisik. Sepanjang aliran tersebut, kondisi bantaran sungai dibiarkan tanpa pengaman.
“Sepanjang itu tidak ada tanggul atau penyangga tebing. Ini yang membuat Argasunya sangat rawan longsor,” jelasnya.
Ia pun berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait sebelum kondisi semakin memburuk. Pasalnya, jika pengikisan tebing terus terjadi, bukan tidak mungkin longsor akan mengancam langsung rumah-rumah warga.
“Warga terus merasa waswas. Harapannya segera ada langkah konkret agar risiko ini tidak semakin besar,” pungkas Mardiansyah. (HSY)














