Kurangi Dampak Limbah Pewarna, EB Batik Gunakan Teknologi Penyaring Ramah Lingkungan

Kurangi Dampak Limbah Pewarna, EB Batik Gunakan Teknologi Penyaring Ramah Lingkungan

Cirebon,- Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan mulai tumbuh di kalangan pengrajin batik di Desa Panembahan, Kabupaten Cirebon. Sejumlah pengrajin setempat kini menerapkan sistem penyaringan limbah batik sebagai upaya mengurangi pencemaran akibat penggunaan bahan pewarna sintetis dalam proses produksi.

Dua pengrajin yang telah menerapkan sistem ini adalah EB Batik Tradisional dan Batik Katura. Inovasi pengolahan limbah tersebut digagas sejak 2021 dan mulai direalisasikan pada 2022.

Direktur EB Batik Tradisional sekaligus Wakil Ketua Paguyuban Pengusaha dan Perajin Batik Cirebon (P3BC), Hisyam Sulaiman menjelaskan ide pengelolaan limbah muncul dari keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan sekitar tempat produksi.

“Awalnya kami berdiskusi dengan tim pembuat alat limbah asal Cirebon untuk merancang alat yang sesuai dengan karakter limbah batik. Limbah ini kan mengandung banyak unsur kimia seperti pewarna sintetis, lilin, minyak, hingga deterjen,” kata Hisyam kepada About Cirebon, Kamis (15/1/2026).

Setelah melalui proses perancangan dan diskusi panjang, prototipe alat penyaring limbah berhasil dibuat dan mulai digunakan sejak 2022 hingga 2025. Namun, dalam perjalanannya, berbagai kendala teknis sempat dihadapi, mulai dari kebocoran, sistem filtrasi yang belum optimal, hingga gangguan kelistrikan.

“Alat ini murni menggunakan sistem listrik tanpa tambahan bahan kimia. Jadi limbah tidak dicampur apa pun, hanya diproses secara elektronik hingga air keluar dalam kondisi jernih,” ujarnya.

Perkembangan signifikan terjadi pada 2025, ketika Bank Indonesia (BI) melihat potensi pengolahan limbah tersebut sejalan dengan program industri hijau. Melalui dukungan BI dan Paguyuban Batik, alat penyaring limbah tersebut kemudian ditingkatkan kualitasnya dan direalisasikan di dua lokasi, yakni EB Batik Tradisional dan Batik Katura.

“Alhamdulillah, di tahun 2025 alat ini di-upgrade dengan dukungan Bank Indonesia dan sekarang sudah berjalan lebih optimal,” ungkap Hisyam.

Secara teknis, sistem pengolahan limbah ini cukup sederhana dan praktis. Seluruh air limbah dari area produksi ditampung dalam satu bak penampungan sementara, lalu disedot ke dalam mesin penyaring.

“Di dalam alat terdapat sistem reaktor elektronik dan beberapa filter. Proses penyaringan berlangsung sekitar 15 sampai 20 menit hingga air keluar dalam kondisi jernih,” jelasnya.

Untuk kapasitas 300 hingga 400 liter air limbah, alat tersebut membutuhkan daya listrik sebesar 3.000 watt dan dapat menyelesaikan satu siklus dalam waktu sekitar tiga jam. Pengoperasiannya pun otomatis, cukup dengan menekan tombol.

Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah biaya perawatan dan kebutuhan sumber daya manusia. Hisyam menyebut, biaya penggantian filter berkisar Rp300.000 hingga Rp400.000 per bulan, tergantung tingkat kekotoran.

Selain itu, biaya listrik mencapai sekitar Rp17.000 per siklus penggunaan atau sekitar Rp500.000 per bulan jika digunakan rutin.

Menurut Hisyam, pengolahan limbah batik menjadi hal yang sangat penting di tengah meningkatnya isu lingkungan.

“Memang limbah batik belum menjadi isu nasional, tapi dampak lingkungan sudah mulai terasa. Kalau kita bisa mengurangi sedikit demi sedikit, kenapa tidak,” ujarnya.

Selain pengolahan limbah cair, EB Batik Tradisional juga mulai menggunakan bahan ramah lingkungan, salah satunya kain serat kupro yang diproduksi di Jepang dan ditenun di Indonesia, yang dapat terurai secara alami dalam waktu sekitar satu bulan.

Ke depan, Hisyam berencana memanfaatkan kembali air hasil penyaringan limbah. Air tersebut akan digunakan untuk menyiram tanaman dan proses finishing kain batik atau ngelorot, sehingga tidak ada air yang terbuang.

“Untuk konsumsi memang belum bisa kami pastikan karena belum ada uji laboratorium lengkap. Tapi secara pH dan TDS meter, air ini sudah aman untuk dibuang ke alam,” jelasnya.

Hisyam juga menegaskan pengembangan sistem penyaringan limbah akan terus dilakukan melalui evaluasi dan peningkatan teknologi secara berkala.

“Harapan saya, setiap tahun kita bisa upgrade alat ini agar semakin sempurna,” katanya.

Ia pun mengajak para pengrajin batik lainnya untuk mulai peduli terhadap lingkungan.

“Setidaknya mari kita upayakan lingkungan yang bersih. Walaupun dari langkah kecil, itu sudah sangat berarti,” pungkasnya. (HSY)

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *