Asal Usul Seblak: Rahasia di Balik Jajanan Pedas Favorit Anak Muda Indonesia
Cirebon,- Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang luar biasa.
Setiap daerah memiliki makanan khas dengan cita rasa dan sejarahnya masing-masing. Salah satu kuliner yang kini telah menjadi favorit di berbagai kalangan, terutama anak muda, adalah seblak.
Hidangan berkuah pedas ini berasal dari Jawa Barat, tepatnya dari wilayah Bandung, dan kini menjelma menjadi salah satu kuliner ikonik Nusantara.
Namun, di balik kepopulerannya, tidak banyak yang tahu bagaimana sebenarnya asal usul seblak khas Jawa Barat.
Mengapa makanan yang berbahan dasar kerupuk ini bisa menjadi fenomena nasional?
Artikel ini akan membahas sejarah, perkembangan, hingga makna budaya di balik kuliner seblak, lengkap dengan data, fakta, dan penjelasan dari berbagai sumber.
Sekilas Tentang Seblak: Cita Rasa Pedas yang Menggugah Selera
Seblak adalah makanan berkuah pedas gurih yang terbuat dari kerupuk mentah yang direbus atau direndam dalam air panas, kemudian dimasak bersama bumbu khas yang terdiri dari kencur, cabai, bawang putih, dan bawang merah.
Biasanya, seblak disajikan dengan tambahan bahan lain seperti makaroni, bakso, sosis, telur, ceker ayam, dan sayuran.
Variasi topping ini membuat seblak fleksibel dan bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.
Cita rasa utama seblak adalah pedas, gurih, dan sedikit aroma kencur yang kuat, menjadikannya unik dibandingkan makanan berkuah lainnya.
Di Bandung sendiri, seblak bukan hanya makanan, melainkan sudah menjadi identitas kuliner khas anak muda.
Asal mula seblak diyakini berasal dari wilayah Bandung bagian selatan, tepatnya dari Kampung Sukasari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bandung. Masyarakat setempat telah mengenal hidangan ini sejak tahun 1940-an.
Pada masa itu, seblak dibuat sebagai cara mengolah kerupuk sisa agar tidak terbuang. Kerupuk yang sudah tidak renyah lagi direndam dan dimasak dengan bumbu kencur pedas.
Hasilnya ternyata lezat dan mengenyangkan, sehingga mulai dijadikan makanan harian oleh warga kampung.
Menurut penelusuran yang dikutip dari laman Disbudpar Jawa Barat (2023), seblak awalnya hanya dikenal di kalangan masyarakat pedesaan.
Namun, sejak awal tahun 2000-an, ketika pedagang kaki lima di Bandung mulai menjualnya di sekitar sekolah dan kampus, popularitas seblak mulai meningkat pesat.
Nama “seblak” ternyata memiliki makna yang cukup menarik. Dalam bahasa Sunda, kata “seblak” berasal dari kata “nyeblak” yang berarti menyengat atau mengejutkan rasa di lidah.
Istilah ini menggambarkan sensasi pedas dan aroma kencur yang khas ketika pertama kali mencicipi hidangan ini.
Sebagian masyarakat juga percaya bahwa kata “seblak” merujuk pada bunyi “seblak” atau “nye-blak” yang muncul saat kerupuk direbus hingga lembek dan mengeluarkan aroma khas.
Jadi, baik dari segi rasa maupun bunyi, nama seblak mencerminkan keunikan kuliner ini, yaitu pedas, mengejutkan, dan tak terlupakan.
Meski terkenal sebagai kuliner khas Bandung, beberapa ahli kuliner menyebut bahwa seblak memiliki kemiripan dengan makanan tradisional dari Cirebon yang disebut kerupuk godog (kerupuk rebus).
Kerupuk godog sudah ada sejak masa penjajahan Belanda, dan cara pembuatannya serupa: kerupuk mentah direbus hingga lembek, kemudian disiram kuah bumbu bawang dan cabai.
Bedanya, kerupuk godog tidak menggunakan kencur, sedangkan seblak menjadikan kencur sebagai elemen utama dalam bumbunya.
Inilah yang menjadi pembeda utama sekaligus ciri khas kuliner Sunda yang memang terkenal gemar menggunakan kencur untuk memberikan aroma segar dan rasa khas.
Dengan kata lain, seblak bisa dianggap sebagai inovasi lokal Sunda terhadap kuliner lama seperti kerupuk godog, yang kemudian berkembang menjadi makanan modern dengan cita rasa yang lebih kompleks.
Dulu, seblak hanya terdiri dari dua komponen utama: kerupuk rebus dan bumbu kencur pedas. Namun seiring perkembangan zaman, terutama sejak tahun 2010-an, seblak mengalami transformasi besar-besaran.
Banyak pedagang mulai menambahkan berbagai bahan pelengkap seperti:
Seblak telur: varian pertama yang populer karena sederhana dan murah.
Seblak ceker: menghadirkan sensasi pedas dan gurih dengan tambahan ceker ayam empuk.
Seblak seafood: inovasi modern dengan tambahan cumi, udang, dan kerang.
Seblak keju dan mozarella: gabungan cita rasa lokal dan modern yang digemari generasi muda.
Kini, ada juga seblak kering (tanpa kuah) dan seblak instan yang dijual dalam kemasan. Produk seblak instan bahkan sudah diekspor ke luar negeri, menandakan bahwa makanan ini tidak lagi sekadar jajanan lokal, melainkan telah menjadi ikon kuliner Indonesia modern.
Kunci utama kelezatan seblak terletak pada bumbu dasar kencur. Rempah yang satu ini memberikan aroma harum yang tajam sekaligus sensasi hangat di lidah.
Seblak bukan hanya soal rasa, tetapi juga fenomena sosial. Sejak awal 2010-an, seblak menjadi simbol jajanan anak muda di Bandung. Hampir di setiap sudut kota terdapat penjual seblak, mulai dari gerobak keliling hingga kedai modern.
Kepopuleran seblak semakin meningkat berkat media sosial. Banyak konten kreator makanan yang membuat video “mukbang seblak level pedas ekstrem”, sehingga membuat orang penasaran untuk mencoba.* (Kiki Nurma Fitriani)
The post Asal Usul Seblak: Rahasia di Balik Jajanan Pedas Favorit Anak Muda Indonesia appeared first on About Cirebon.















