Cegah Perekrutan Terorisme Dan Bullying pada Anak, Polda Jabar Bentuk Satgas Khusus di Lingkungan Sekolah
Polda Jawa Barat tak memungkiri adanya ancaman serius dari pergeseran metode perekrutan kelompok terorisme yang kini masif melalui media sosial, menyasar generasi Z. Jawa Barat bahkan terdata menempati posisi teratas di Indonesia sebagai daerah dengan kasus keterpaparan radikalisme anak melalui dunia digital, di tengah temuan Densus 88 adanya 110 anak di Indonesia yang direkrut kelompok teror.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan melalui Kabid Humas Kombes Pol Hendra Rochmawan menyatakan bahwa fenomena ini sangat mengkhawatirkan karena anak-anak dan remaja saat ini tak lepas dari gadget.
Kombes Hendra menjelaskan bahwa kelompok radikal memanfaatkan berbagai faktor kerentanan anak, mulai dari kondisi lingkungan, persoalan ekonomi, hingga persaingan kerja yang ketat, yang semuanya membuka celah bagi perekrutan.
“Ini pengguna gadget di Indonesia kalangan gen Z sangat masif tentu saja yang dilakukan oleh terorisme memanfaatkan teknologi untuk bisa direkrut,” ucapnya, Senin (24/11).
Sebagai bentuk pencegahan komprehensif, Polda Jawa Barat menyiapkan sejumlah langkah strategis yang melibatkan kerja sama dengan pemangku kepentingan dan Da’i Kamtibmas.
Yang paling inovatif, Polda Jabar tengah merancang pembentukan satuan tugas (Satgas) di sekolah-sekolah yang melibatkan siswa secara langsung. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi, terutama setelah insiden ledakan di Jakarta yang pelakunya diketahui merupakan korban perundungan (bullying).
“Kapolda Jabar telah memerintahkan Humas, Binmas, dan unit PPA akan kita bentuk satgas untuk kita libatkan dari PKS (Polisi Keamanan Sekolah) yang di OSIS dan organisasi di sekolahan itu kita ajak untuk edukasi agar jadi pelapor dari tindakan bullying yang dilakukan di sekolah,” kata Kombes Hendra.
Kombes Hendra menutup dengan penekanan bahwa dampak dari bullying sangat besar, dan deteksi dini di lingkungan sekolah dapat menjadi kunci untuk mencegah kerentanan anak terhadap paham radikal.














