Dari Plastik ke Daun Pisang, Adaptasi Pedagang Cirebon Hadapi Kenaikan Harga
BisnisCirebon – Lonjakan harga kantong plastik di Kota Cirebon membawa dampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di pasar tradisional. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya operasional, tetapi juga menekan margin keuntungan para pedagang.
Di tengah situasi tersebut, pedagang mulai beradaptasi dengan berbagai cara, sekaligus mendorong pergeseran menuju penggunaan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon, Iing Daiman, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik membuat pedagang harus lebih cermat dalam mengatur penggunaan kemasan.
“Saat ini banyak pedagang yang menggabungkan beberapa jenis belanjaan dalam satu kantong, yang sebelumnya dipisah,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Selain itu, penggunaan plastik berlapis juga mulai ditinggalkan. Beberapa komoditas yang sebelumnya dikemas dengan dua lapis plastik kini cukup menggunakan satu lapisan sebagai bentuk efisiensi.
Menurutnya, perubahan ini tidak hanya dipicu faktor ekonomi, tetapi juga menjadi momentum untuk menekan jumlah sampah plastik di lingkungan pasar. Ia menilai kesadaran pedagang terhadap pentingnya pengurangan plastik mulai tumbuh, meskipun belum merata.
Di sisi lain, alternatif kemasan tradisional seperti daun pisang kembali dilirik sebagai pengganti plastik. Bahkan, sebagian konsumen kini mulai membawa kantong belanja sendiri saat bertransaksi.
“Ini jadi kebiasaan baik yang perlahan terbentuk, karena pembeli juga ikut berperan mengurangi penggunaan plastik,” katanya.
Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan langsung oleh pedagang. Aeni (60), salah satu pedagang di Pasar Pagi Cirebon, mengaku harus menyesuaikan strategi berjualan agar tetap bertahan di tengah kondisi tersebut.
Ia menyebut harga kantong plastik yang sebelumnya sekitar Rp8.000 per kemasan kini naik menjadi Rp12.000 sejak awal April 2026. Kenaikan ini sempat membuatnya menaikkan harga jual, namun tidak berlangsung lama karena daya beli konsumen ikut menurun.
“Sekarang untuk dapat Rp100 ribu saja lebih sulit, padahal sebelumnya bisa sampai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari,” ungkapnya. Makin Tahu Indonesia.**














