Disdik Ungkap 20 Persen Sekolah di Kota Cirebon Masih Kurang Layak
Cirebon,- Kondisi fasilitas pendidikan di Kota Cirebon masih menghadapi sejumlah persoalan, khususnya pada kelayakan bangunan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon, Kadini S.Sos, mengakui sarana dan prasarana (sarpras) di beberapa sekolah belum sepenuhnya memenuhi standar.
“Memang belum semuanya dalam kondisi baik, itu kami akui,” ujar Kadini, Rabu (3/12/2025).
Menurutnya, untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), seluruh 18 sekolah negeri di bawah Disdik dinilai relatif aman dari sisi sarpras. Namun, kondisi berbeda masih ditemukan di tingkat Sekolah Dasar (SD).
“Untuk SD, ini yang sedang kami genjot. Tahun ini kami mendapatkan bantuan, meskipun jumlahnya masih terbatas,” jelasnya.
Disdik Kota Cirebon juga tengah menyiapkan langkah strategis untuk tahun anggaran 2026. Tim dari dinas tersebut, kata Kadini, bertolak ke Jakarta untuk menyerahkan proposal usulan perbaikan sarpras kepada kementerian terkait.
“Kami sudah mendata seluruh sekolah yang membutuhkan penanganan. Hari ini ada tim yang berangkat ke Jakarta untuk menyampaikan usulannya,” terang Kadini.
Saat ini terdapat 125 Sekolah Dasar Negeri di Kota Cirebon. Perbaikan dan peningkatan fasilitas akan difokuskan terlebih dahulu pada sekolah negeri, mengingat banyak bangunan SD merupakan konstruksi lama sejak era Inpres.
“Fokus utama kami adalah sekolah negeri karena banyak bangunan yang sudah berusia lama dan memerlukan renovasi,” tambahnya.
Berdasarkan hasil pendataan Disdik, sekitar 20 persen sekolah di Kota Cirebon masih membutuhkan perbaikan sarpras.
Upaya perbaikan terus dilakukan melalui berbagai sumber anggaran, termasuk APBD, aspirasi dewan, serta penambahan alokasi anggaran pendidikan sebagaimana instruksi Wali Kota.
“Yang masuk kategori kurang layak sekitar 20 persen. Kami sudah mulai mendorong perbaikan menggunakan APBD, pokok pikiran dewan, dan tahun ini juga diarahkan untuk menambah anggaran, terutama untuk rehabilitasi bangunan dan penyediaan toilet bagi siswa,” katanya.
Kerusakan yang paling banyak ditemukan adalah pada ruang kelas. Selebihnya meliputi toilet, ruang guru, perpustakaan, hingga fasilitas penunjang lain seperti mushola.
“Mayoritas memang ruang kelas, sisanya toilet, ruang guru, hingga perpustakaan,” tutup Kadini. (HSY)















