Wisuda XXXVI AKMI Suaka Bahari: 137 Lulusan Siap Mengabdi di Dunia Pelayaran
Cirebon,- Akademi Maritim (AKMI) Suaka Bahari Cirebon menggelar Sidang Terbuka Wisuda XXXVI Program Studi Nautika, Teknika, serta Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Kepelabuhan (KPNK) tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Ballroom Aston Cirebon Hotel & Convention Center, Sabtu (31/1/2026).
Direktur AKMI Suaka Bahari Cirebon, Bambang Irawan, S.T., M.M.Tr., M.Mar.E, menegaskan wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal pengabdian dan tanggung jawab profesional sebagai insan maritim di dunia pelayaran dan kepelabuhanan.
“Ini merupakan momentum yang sangat penting, bukan hanya bagi wisudawan dan wisudawati, tetapi juga bagi orang tua, keluarga, serta civitas akademika. Ini adalah puncak perjalanan panjang pendidikan dan pembentukan karakter di bidang kemaritiman,” ujarnya.
Pada Wisuda XXXVI ini, AKMI Suaka Bahari Cirebon meluluskan total 137 taruna dan taruni, terdiri dari 66 lulusan Program Studi Nautika, 36 lulusan Program Studi Teknika, serta 35 lulusan Program Studi Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Kepelabuhan (KPNK).
Dalam sambutannya, Bambang Irawan menekankan para lulusan telah ditempa dengan disiplin, etika profesi, serta budaya keselamatan pelayaran yang menjadi jiwa dunia maritim, baik selama menjalani pendidikan di kampus maupun saat praktik laut dan darat.
Ia juga mengingatkan para wisudawan dihadapkan pada era yang penuh dinamika dan tantangan global, mulai dari ketidakpastian geopolitik internasional, konflik kawasan, perubahan jalur perdagangan, krisis energi, hingga percepatan transformasi teknologi di sektor maritim. Meski demikian, ia menegaskan pelaut Indonesia tidak boleh gentar.
“Sejak dahulu bangsa kita adalah bangsa bahari. Laut adalah identitas sekaligus kekuatan strategis Indonesia. Dalam kondisi global yang tidak menentu sekalipun, transportasi laut tetap menjadi tulang punggung perdagangan dunia,” tegasnya.
Menurutnya, profesi di sektor pelayaran bukanlah profesi yang surut oleh zaman, justru semakin strategis dan dibutuhkan dunia internasional. Dunia maritim membutuhkan perwira pelayaran yang disiplin, terampil, beretika, patuh pada standar keselamatan, kreatif, melek teknologi, serta mampu membawa nama baik bangsa Indonesia di kancah global.
AKMI Suaka Bahari Cirebon, lanjutnya, berkomitmen menyiapkan lulusan bukan sekadar tenaga kerja, melainkan perwira pelayaran yang berkarakter, berkompetensi, memiliki mental tangguh, serta berwawasan kebangsaan.
“Nilai disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan keselamatan yang ditanamkan selama pendidikan menjadi bekal utama menghadapi dunia kerja,” ungkapnya.
Bambang juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai alumni Program Studi Teknika AKMI Suaka Bahari Cirebon tahun 1997. Ia mengaku pernah berkarier sebagai perwira pelayaran niaga di perusahaan lokal maupun asing selama kurang lebih 16 tahun, sebelum kemudian dipercaya menjadi investigator keselamatan pelayaran di Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Republik Indonesia.
“Dari berbagai peristiwa keselamatan transportasi yang saya tangani, satu pelajaran utama adalah bahwa keselamatan tidak pernah bersifat kebetulan. Keselamatan adalah hasil dari kompetensi, kedisiplinan, kepatuhan terhadap prosedur, serta karakter yang kuat,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan makna seragam dinas upacara berwarna navy blue yang dikenakan para wisudawan sebagai simbol kehormatan pelaut internasional, disiplin, serta kesiapan mengemban tanggung jawab profesional di dunia pelayaran dan kepelabuhanan.
AKMI Suaka Bahari Cirebon juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dan link and match dengan industri maritim. Kehadiran para mitra industri dalam prosesi wisuda menjadi bukti nyata kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Bambang berpesan agar para lulusan senantiasa menjaga integritas, menjunjung tinggi keselamatan, serta terus belajar sepanjang hayat. Ia menekankan bahwa profesi maritim merupakan profesi kehormatan yang membawa nama baik institusi pendidikan sekaligus bangsa Indonesia.
“Ketika berdiri di anjungan kapal, di kamar mesin, maupun di geladak, ingatlah bahwa saudara membawa bendera Merah Putih. Setiap sikap, keputusan, dan tindakan mencerminkan kualitas diri, almamater, dan bangsa. Indonesia membutuhkan pelaut yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga kuat secara mental dan bermoral,” pungkasnya. (HSY)














