Visn_V1, Inovasi Siswa SMAN 1 Cirebon untuk Bantu Tunanetra dengan Teknologi AI

Visn_V1, Inovasi Siswa SMAN 1 Cirebon untuk Bantu Tunanetra dengan Teknologi AI

Cirebon,- Upaya membantu penyandang disabilitas netra datang dari siswa SMAN 1 Cirebon, Firdaus Hidayatullah.

Ia berhasil menciptakan Visn_V1, sebuah sistem pendeteksi objek berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengenali benda di sekitar sekaligus memperkirakan jaraknya.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui riset mandiri dan berhasil masuk 10 besar lomba AI tingkat nasional yang digelar Binus University pada bulan lalu. Saat ini, prototipe Visn_V1 sudah tersedia dalam bentuk demo website dan bisa diakses publik.

Firdaus menceritakan ide awal Visn_V1 muncul saat ia melihat langsung hambatan yang biasa dihadapi penyandang tunanetra di ruang publik.

Menurutnya, banyak rintangan seperti tiang, papan reklame, pot tanaman, bahkan kendaraan yang parkir di trotoar dan tidak terdeteksi oleh mereka.

“Fasilitas bagi tunanetra di ruang publik masih jauh dari layak dan sering kali membahayakan keselamatan,” ujar Firdaus kepada About Cirebon, Rabu (17/12/2025).

Pengalaman personal juga turut menguatkan tekadnya. Saat di stasiun, ia berdialog dengan penyandang tunanetra yang mengeluhkan kondisi fasilitas bagi difabel.

Pengamatan lain dilakukan Firdaus di Jalan Cipto Kota Cirebon, untuk mendokumentasikan rintangan yang kerap ditemui di trotoar.

Menurut Firdaus, Visn_V1 memanfaatkan kamera yang terhubung dengan sistem AI. Teknologi computer vision akan menganalisis objek dalam tangkapan kamera secara real-time dan memberi informasi melalui suara lewat earphone.

“Saat ini sistem mengenali bentuk dan karakter objek menggunakan dataset Coco SSD. Dataset masih dikembangkan secara mandiri, termasuk dengan memfoto objek yang ditemui di jalan dan memberi label,” jelasnya.

Meski masih tahap pengembangan, Firdaus memastikan akurasi terus ditingkatkan melalui pengujian. Ia menyebut sistem dibuat sederhana agar mudah digunakan oleh tunanetra dari beragam latar belakang.

Pihak sekolah disebut memberikan dukungan dalam proses pengembangan dan kompetisi. Firdaus mengaku prototipe awal dibuat dalam waktu dua minggu untuk mengejar tenggat lomba, sehingga masih berbentuk website.

Pengujian langsung kepada tunanetra akan menjadi prioritas pada tahap berikutnya setelah sistem lebih matang.

Terkait rencana jangka panjang, Firdaus ingin mengintegrasikan teknologi Visn_V1 ke perangkat lain.

“Ke depan saya ingin menerapkan ini pada kacamata pintar, atau menjadi fitur di smartphone khusus tunanetra,” katanya.

Firdaus berharap Visn_V1 dapat benar-benar membantu penyandang tunanetra beraktivitas secara aman dan mandiri, tanpa memandang latar belakang sosial.

“Semua orang berhak mendapatkan aksesibilitas dan teknologi yang ramah difabel,” tegasnya.

Firdaus berharap inovasi ini mampu menjadi terobosan bagi peningkatan fasilitas dan keselamatan tunanetra di ruang publik, terutama di daerah-daerah yang belum memiliki infrastruktur ramah difabel. (HSY)

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *