Cirebon Jadi Tuan Rumah Temu Inklusi 2025, 32 Provinsi Siap Berpartisipasi
BisnisCirebon.com – Sejak pertama kali digelar pada 2014, Temu Inklusi telah menjadi wadah penting bagi komunitas difabel, organisasi masyarakat sipil, akademisi, pemerintah, dunia usaha, hingga media untuk memperkuat sinergi dan mencari solusi atas tantangan inklusi di Indonesia.
Memasuki penyelenggaraan ke-6 pada 2–4 September 2025 di Desa Durajaya, Kabupaten Cirebon, Temu Inklusi tahun ini mengusung tema “Komitmen, Sinergi, Aksi, dan Inovasi Pembangunan Inklusif Difabel untuk Indonesia Emas 2045.”
Ketua Pelaksana Temu Inklusi 6 Cirebon, Samsudin, menjelaskan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang berbagi pengalaman, memperluas jejaring, melakukan konsolidasi advokasi, hingga kampanye publik.
“Rangkaian acara meliputi lomba orang muda bicara inklusi, diskusi tematik, seminar nasional, panggung budaya nusantara, pameran, bazar, permainan inklusif, hingga lokabagi,” paparnya saat Media Briefing di Aula Diskominfo Kabupaten Cirebon, Rabu (20/8/2025).
Dalam seminar nasional, akan dibahas dua topik utama yaitu “Difabel dalam Kebhinekaan Menuju Indonesia Emas 2045: Pencapaian dan Tantangan” dan “Mendorong Keadilan Penyandang Disabilitas dalam Sistem Perlindungan Sosial di Indonesia.”
Sejak diinisiasi oleh SIGAB Indonesia (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia) pada 2014, Temu Inklusi konsisten menghadirkan refleksi perjalanan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi difabel. Forum ini bahkan melahirkan gagasan Desa Inklusif, yang kini telah diterapkan di 157 desa pada 10 kabupaten dan 5 provinsi di Indonesia.
“Tahun ini kami ingin menegaskan bahwa inklusi bukan hanya tujuan, tetapi proses berkelanjutan yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Event ini ditargetkan akan dihadiri perwakilan dari 32 provinsi,” jelas Samsudin.
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia mencatat perkembangan signifikan dalam kebijakan inklusi, termasuk meningkatnya kesadaran publik terhadap hak-hak difabel. Namun, tantangan struktural masih nyata, seperti keterbatasan akses pendidikan, lapangan kerja, layanan publik, hingga partisipasi politik.
Tahun 2025 menjadi momentum penting untuk mempercepat kebijakan inklusi, mengingat target Indonesia Inklusif 2030 semakin dekat. Percepatan ini diharapkan menjadi pijakan bagi terwujudnya cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Lebih dari sekadar forum diskusi, Temu Inklusi 2025 ditujukan sebagai ruang aksi kolaboratif yang melibatkan komunitas difabel, akademisi, pemerintah, dunia usaha, hingga media.
Forum ini diharapkan mampu memperkuat jejaring dan mempercepat lahirnya kebijakan yang lebih inklusif serta sistem yang responsif terhadap keragaman kebutuhan masyarakat. Makin Tahu Indonesia.**
















