Kisah Desa Wisata Bantaragung Menuju Kemandirian Ekonomi
Cirebon,- Pengembangan ekonomi lokal sering kali menjadi tantangan bagi banyak desa di Indonesia. Namun, Desa Wisata Bantaragung di Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, meniti jalan menuju kemandirian ekonomi berkat kolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon.
Ratusan orang memadati jalan yang dikelilingi hijau persawahan di Desa Bantaragung, Sabtu (26/10/2024) pagi. Mereka membawa gunungan berisi buah-buahan, padi, dan hasil bumi lainnya. Beginilah suasana Festival Bumi Bantaragung, acara tahunan untuk menampilkan berbagai potensi desa.
Berada di bawah kaki Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jabar, desa ini memang menawarkan potensi besar sebagai destinasi wisata yang menarik. Perpaduan budaya, alam, dan komoditas lokal yang unik jadi modalnya. Dengan pemandangan sawah berundak mirip terasering di Ubud, Bali, desa ini pun biasa disebut sebagai Ubudnya Jawa Barat.
Bantaragung juga punya kawasan wisata seperti Ciboer Pass yang menampilkan hamparan sawah luas, Curug Cipeuteuy dengan air terjunnya, serta destinasi Bukit Batu Semar dan Telaga Biru Cicerem. Dengan suasana pedesaan yang asri, wisatawan dapat menikmati berbagai aktivitas alam sambil menyantap kuliner tradisional khas Tanah Pasundan, seperti nasi liwet, jalakotek, hingga singkong rebus.
Kehadiran berbagai potensi desa itu tidak terlepas dari dukungan Kantor Perwakilan BI Cirebon.
“Kami melihat potensi Desa Bantaragung yang sangat besar dan mendorongnya agar menjadi destinasi wisata alternatif bagi masyarakat di wilayah Ciayumajakuning, bahkan di tingkat nasional,” ujar Agung Budi Laksono, Deputi Bank Indonesia Cirebon, usai menghadiri Festival Bumi Bantaragung.
BI Cirebon tidak hanya berperan dalam mengidentifikasi potensi desa wisata ini, tetapi juga turut memberikan dukungan konkret dalam bentuk pembinaan dan pelatihan bagi pelaku usaha kecil dan menengah di desa tersebut. Pengembangan ini telah dimulai sejak tahun 2019 melalui pembentukan kluster padi organik di Bantaragung. Dukungan intensif dari BI baru berlanjut tahun 2024.
Dalam upaya mendukung pengembangan ekonomi, BI Cirebon mengadakan program pembinaan bagi masyarakat desa melalui pelatihan UMKM serta penerapan digitalisasi dalam pemasaran produk.
“Kami akan memberikan pelatihan terkait pemasaran digital dan penggunaan QRIS agar produk desa bisa dijual lebih luas,” jelas Agung.
Penggunaan teknologi digital ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar, sehingga potensi ekonomi desa bisa berkembang secara berkelanjutan. BI Cirebon juga menginisiasi kegiatan studi banding dengan mengajak masyarakat Bantaragung untuk belajar dari pengelolaan pariwisata di Ubud, Bali, yang memiliki karakter wilayah mirip dengan Bantaragung.
Agung juga menyebutkan rencana untuk mengundang pelaku wisata dari Bali ke Bantaragung, dengan harapan tercipta kerja sama yang saling menguntungkan.
“Tujuan kami adalah agar peran BI dan pemerintah daerah bisa berkurang secara bertahap, dan masyarakat dapat mandiri dalam mengelola serta mengembangkan potensi wisata mereka sendiri,” lanjut Agung.
Sejauh ini, Desa Bantaragung menawarkan berbagai paket wisata bagi para pengunjung yang ingin merasakan kehidupan pedesaan. Paket-paket ini mencakup aktivitas, seperti trekking dan edukasi untuk anak-anak. Tarifnya terjangkau, antara Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per orang. Hal ini diharapkan mampu menarik wisatawan dari berbagai kalangan serta memperluas segmen pasar.
Tidak sekadar menarik wisatawan, pengembangan desa wisata juga perlu memperhatikan kelestarian alam. Pemerintah desa Bantaragung telah menetapkan aturan yang mengharuskan penggunaan pupuk organik dan melarang pupuk kimia untuk melindungi lingkungan. Desa Bantaragung juga termasuk dalam zona Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), yang menegaskan komitmen desa dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alamnya.
Keberhasilan pengembangan ini tentu diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Jabar dan wilayah Ciayumajakuning atau Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Dengan begitu, pengembangan desa wisata dapat dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Kendati begitu, pengembangan Desa Wisata Bantaragung bukan tanpa tantangan. Desa ini memiliki 11 RW dengan masyarakat yang heterogen dan memiliki pandangan yang berbeda-beda terkait pengembangan wisata. Oleh karena itu, menurut Agung, dibutuhkan kesadaran dan sinergi bersama agar pengembangan ini dapat berjalan optimal.
“Kami perlu membangun kesadaran bersama bahwa ini adalah kerja kolaboratif yang membutuhkan sinergi untuk mencapai hasil yang optimal,” tambahnya.
Apalagi, kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Bantaragung terus meningkat. Tahun 2023 saja, wisatawan yang mengunjungi Ciboer Pass dan Curug Cipeuteuy mencapai 15.290 orang. Tahun ini, diperkirakan kunjungan wisatawan ke desa wisata ini mencapai lebih dari 40.000 orang.
Agung berharap, dengan kunjungan wisatawan, desa ini bisa mencapai kemandirian ekonomi. Langkah ini selaras dengan visi BI Cirebon dalam mendorong desa-desa wisata untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kehadiran Festival Bumi Bantaragung menjadi bukti nyata dari komitmen BI Cirebon dan pemerintah daerah dalam memajukan potensi lokal.
Agung optimistis, dengan kolaborasi antara BI, pemerintah daerah, dan masyarakat, Desa Bantaragung dapat menjadi contoh bagi pengembangan desa wisata di wilayah lainnya.
“Dengan program pembinaan yang intensif dan kolaborasi yang kuat, kami berharap Desa Bantaragung mampu menjadi desa wisata yang mandiri dan memiliki daya saing tinggi,” pungkasnya.
Kepala Desa Bantaragung, Samhari mengungkapkan daya tarik wisata ini tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi warga setempat, tetapi juga membantu mengangkat nama desa sebagai destinasi wisata unggulan.
“Festival Bumi Bantaragung yang kami adakan setiap tahun adalah bentuk rasa syukur serta cara kami mempromosikan potensi desa sebagai tempat wisata,” ujar Samhari.
Festival ini, kata Samhari, tidak hanya menampilkan hasil panen dan produk lokal, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan seni dan sosial, menciptakan pengalaman wisata yang lengkap bagi pengunjung.
Dengan meningkatnya jumlah pengunjung setiap tahun, Bantaragung kini menjadi lebih populer dan mampu menggerakkan roda ekonomi setempat.
“Kehadiran wisatawan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui aktivitas ekonomi yang beragam, seperti penyewaan homestay, paket wisata alam, serta penjualan produk-produk lokal,” pungkasnya. (HSY)
The post Kisah Desa Wisata Bantaragung Menuju Kemandirian Ekonomi appeared first on About Cirebon.














