Urban Farming Terpadu Jadi Solusi Krisis Lahan Pertanian di Kota Cirebon

Urban Farming Terpadu Jadi Solusi Krisis Lahan Pertanian di Kota Cirebon

Di tengah menyusutnya lahan pertanian, Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) mendorong masyarakat memanfaatkan ruang sempit di lingkungan permukiman lewat program urban farming terpadu.

Program ini tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman, tetapi juga mengintegrasikan peternakan ayam petelur dan perikanan dalam satu ekosistem sederhana yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga.

Kepala DKPPP Kota Cirebon, Elmi Masruroh, menyebut konsep tersebut sebagai solusi konkret atas keterbatasan lahan pertanian yang kini tersisa kurang dari 94 hektare.

“Urban farming terpadu ini kami kembangkan agar masyarakat tetap bisa memproduksi pangan sendiri meski tinggal di kawasan padat penduduk,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Menurut Elmi, pihaknya sengaja merancang konsep budidaya yang sederhana, menarik, dan mudah diterapkan. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah sistem pengelolaan ayam petelur dengan pencatatan produksi telur, pemantauan kesehatan, hingga penamaan ayam untuk memudahkan pengawasan.

Selain itu, masyarakat juga diberikan edukasi terkait pengelolaan kandang yang bersih dan tidak menimbulkan bau, salah satunya melalui penggunaan kapur untuk menjaga kebersihan lingkungan ternak.

Program ini mulai mendapat respons positif. Sejumlah warga di tingkat kelurahan bahkan membangun kandang ayam petelur secara swadaya melalui iuran bersama setelah mendapatkan pendampingan dari DKPPP.

Pendampingan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pemberian pakan, perawatan harian, vaksinasi, hingga pengobatan ternak oleh petugas lapangan.

Saat ini, kelompok peternak binaan telah berjalan di beberapa wilayah, seperti Kelurahan Kalijaga dan Argasunya. Masing-masing kelompok mengelola sekitar 600 ekor ayam bantuan dari Kementerian Pertanian yang kini rutin menghasilkan telur setiap hari.

Tak hanya itu, DKPPP juga membuat proyek percontohan skala kecil yang dikelola internal pegawai. Sebanyak 17 ekor ayam dipelihara untuk memahami langsung kondisi di lapangan.

“Dari 17 ekor ayam, hasil produksi bisa mencapai 17 butir telur per hari. Bahkan pernah produksi penuh,” kata Elmi.

Untuk memulai usaha ini, biaya yang dibutuhkan relatif terjangkau, berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Biaya tersebut sudah mencakup kandang, bibit ayam, serta pakan awal.

Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga, program ini juga membuka peluang tambahan penghasilan. Telur yang dihasilkan dapat dijual, sementara limbah kotoran ayam dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman dalam sistem pertanian terpadu.

Elmi menambahkan, konsep urban farming terpadu kini mulai diperluas ke sejumlah titik lain di Kota Cirebon. Beberapa kelompok binaan bahkan telah mengembangkan tanaman hortikultura dan kolam ikan, serta akan segera dilengkapi dengan peternakan ayam petelur.

“Hasil panen dari kelompok binaan juga dipasarkan melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah, sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan langsung masyarakat,” pungkasnya. Makin Tahu Indonesia.**

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *