Mengenal Ajaran Taoisme dan Konghucu Tentang Kelestarian Alam

Mengenal Ajaran Taoisme dan Konghucu Tentang Kelestarian Alam

Bisniscirebon.com: Akhir-akhir ini ramai diberitakan di berbagai media massa dan media sosial tentang rusaknya Alam mengakibatkan longsor Galian Tambang Pasir di Gunung Kuda, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, mengakibatkan tewas nya puluhan korban jiwa pekerja Tambang dan rusaknya keindahan alam Raja Ampat akibat tambang nikel.
Bagaimana kah ajaran Kong Hu Cu dan Taoisme tentang kelestarian alam.

“Baik Taoisme maupun Khonghucu menekankan pentingnya menjaga harmoni dengan alam dan pelestarian lingkungan,” kata Budayawan Cirebon – Tionghoa Jeremy Huang Wijaya, Sabtu (14/6).

Taoisme, dengan fokus pada “Tao” atau jalan alam semesta, mendorong manusia untuk hidup selaras dengan prinsip alam, sementara Khonghucu menekankan pentingnya tanggung jawab sosial dan menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan melalui konsep seperti “Tian” (Langit) dan “Ming” (Sinar).

“Taoisme juga menekankan pentingnya keseimbangan antara Yin (tenaga pasif, feminin) dan Yang (tenaga aktif, maskulin). Keseimbangan ini penting untuk menjaga keharmonisan alam dan manusia,” imbuhnya.

Taoisme menekankan pentingnya hidup sederhana, menjauhi keegoisan, dan menghormati alam. Manusia dianggap sebagai bagian dari alam, bukan sebagai penguasa.

Khonghucu memiliki konsep Tian (Langit) yang melambangkan kekuatan tertinggi dan prinsip alam yang mengatur tatanan alam semesta.

Ajaran Khonghucu menekankan bahwa manusia harus menghormati alam dan menjaga keseimbangan lingkungan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.

“Konghucu mengajarkan ada keterkaitan dan saling mempengaruhi antara tiga entitas (San Cai): Tian Di Ren.(Tian itu Tuhan, Di itu alam semesta, Ren itu manusia),” ujarnya.

Alam, termasuk di dalamnya tanah, air, udara binatang, tumbuhan, dan segenap makhluk dan benda perlu dikelola dengan tepat dan tidak sembarangan.

Ketepatan waktu (musim dan umur) dan cara yang benar akan sangat menentukan pemeliharaan alam dan terciptanya keseimbangan alam sehingga alam dapat terpelihara, tidak rusak dan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

“Ketidaktepatan waktu (musim dan umur) dan cara yang tidak benar akan menimbulkan berbagai bencana,” tuturnya.

Konghucu mengajarkan ketika akan sembahyang dan diamanatkan melakukan sembahyang dan doa di gunung dan di hutan, di sungai dan di danau. Dipilih hewan korban dan tidak digunakan hewan betina.

Artinya ketika mau sajikan makanan untuk acara sembahyang tidak boleh hewan betina harus jantan tujuan nya supaya hewan betina dapat memelihara keturunan dan merawat anak anaknya. Dikeluarkan larangan menebang pohon-pohon.

Konghucu mengajarkan disaat musim semi Jaring yang digunakan untuk berburu hewan dan burung, jaring tangan, pemanah-pemanah yang menyamar, dan umpan yang membahayakan, jangan digunakan (dalam bulan ini) ke sembilan pintu.

Karena musim semi adalah musim kawin para hewan, supaya terjadi regenerasi kehidupan para hewan
Paduan hubungan harmonis antara Tian-Di-Ren (Sanxing): antara langit-bumi (lingkungan alam), dengan manusia. Itu diejawantahkan sebagai saling mengelola, berbagi kehidupan.

Tian dirusak, bisa berakhirlah Bumi. Bumi dirusak, rusak pula ekosistem semesta. Manusia cuma bisa hidup dengan seimbangnya dua unsur dasar ini. Begitu manusianya rusak, maka semesta pun akan kacau.
Taoisme lebih menekankan pada pemahaman dan mengikuti hukum alam, sementara Khonghucu lebih menekankan pada perilaku dan moralitas yang mendukung keseimbangan lingkungan.

“Alam adalah sumber kehidupan manusia, merusak alam sama dengan merusak masa depan anak cucu kita,” pungkasnya.(Regina)

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *