Mengenal Sekelumit Perayaan Tiong Ciu Warga Tionghoa
Bisniscirebon.com: 不要忘记祖先的传统和历史岁月 (Bùyào wàngjì zǔxiān de chuántǒng hé lìshǐ suìyuè) artinya jangan lupakan tradisi dan hari bersejarah nenek moyang. Pada tanggal 17 September nanti warga Tionghoa seluruh dunia merayakan hari Tiong Ciu, dalam kalender penanggalan Imlek dirayakan setiap tanggal 15 bulan delapan.
Budayawan Cirebon – Tionghoa Jeremy Huang Wijaya mengatakan, hari itu bulan bersinar utuh bulat disebut juga Festival Pertengahan Musim Gugur (Hanzi tradisional: 中秋節; Hanzi: 中秋节; Pinyin: Zhōngqiū jié) atau juga dikenal dengan nama Festival Tiong Ciu, Festival Bulan, atau Festival Kue Bulan merupakan hari raya panen dan salah satu festival terpenting di Tiongkok China. Saat itu puncak musim panen. Biasanya dirayakan pada minggu kedua September sampai minggu kedua Oktober,” katanya, Senin (9/9/2024).
Menurutnya, perayaan pertengahan musim gugur ini dimulai sekitar zaman Dinasti Xia dan Shang (2000-1600 SM) tiap Dinasti di Tiongkok China merayakan dengan cara yang berbeda. Pada Dinasti Zhou, rakyat merayakannya dengan cara memuja bulan mengadakan kegiatan ritual di lapangan terbuka sembahyang kepada Bulan menggunakan hio.
“Pada Dinasti Tang tradisi itu lebih jelas dan merakyat. Pada Dinasti Song Selatan (1127-1279 M) warga di Tiongkok China mulai kirim kue bulan yang disebut Tiong Ciu Pia bentuknya bulat seperti bulan di dalam isinya kacang dan daging, dikirim kepada tetangga, rekan dan famili,” imbuhan.
Tepat tanggal 15 bulan delapan malam hari mereka sembahyang di lapangan terbuka. Sembahyang kepada Bulan mengucapkan syukur untuk hasil panen yang mereka dapatkan, sambil menikmati kue Tiong Ciu Pia dan minum teh, mereka bernyanyi dan menari bersama diterangi rembulan malam yang bersinar terang dan utuh bulat.
“Menyalakan lentera, menanam pohon di siang hari sebagai lambang tanam modal kehidupan. Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal menurut namanya dalam Bahasa Hokkian yaitu gwee pia atau tiong chiu pia. “Yue Bing, Gwee Pia, Tiong Chiu Gwee Pia, Tong Chiu Pia Sajian,” ujarnya.
Kue bulan tradisional pada dasarnya berbentuk bulat melambangkan kebulatan dan keutuhan kehidupan, juga melambangkan keutuhan kasih sayang keluarga. Kue bulan atau disebut juga Tiong Ciu Pia bahan utamanya adalah tepung, telur ayam, kacang hijau, kacang merah, garam, minyak sayur.
“Festival Pertengahan Musim Gugur memiliki sebuah legenda, yaitu Legenda Dewi Bulan, Chang E. Dikisahkan di bumi muncul sepuluh matahari. Houyi, sang pemanah diutus ke bumi bersama istrinya Chang E untuk memanah sembilan matahari. Ia kemudian menjadi pahlawan yang dielu-elukan rakyat. Dewi kayangan turun dan memberikan obat panjang umur pada pasangan suami-istri itu. Karena terlampau dijunjung, Hou Yi akhirnya menjadi sombong. Istrinya menjadi sedih dan kemudian meneguk semua obat yang diberikan pada mereka. Akhirnya tubuhnya perlahan terangkat ke bulan dan menjadi Dewi Bulan,” terangnya.
Versi lain mengatakan bahwa rekan Hou Yi, Feng Meng iri akan pencapaian Hou Yi dan ingin mencuri obat panjang umur.
“Ia ingin mencurinya, tetapi Chang E berhasil mencegahnya dan dengan segera menelan obat itu,” pungkasnya. Makin Tahu Indonesia. (Regina)














