Pertama di Dunia, Vaksin TB Berbasis Inhalasi Diuji di Indonesia

Pertama di Dunia, Vaksin TB Berbasis Inhalasi Diuji di Indonesia

Bisniscirebon.com: Dewan Penasihat Stop TB Partnership Indonesia (STPI) Prof. dr. Erlina Burhan memimpin uji klinis vaksin TB berbasis inhalasi di Indonesia. Menariknya, penelitian ini jadi yang pertama di dunia.

“Vaksin inhalasi baru dimulai 13 November, baru tahap 1 uji coba ke hewan,” kata Prof. Erlina dalam diskusi publik di Jakarta, Rabu (12/11/2025).

Jika respons awalnya menunjukkan hasil positif, Prof Erlina dan tim akan melakukan uji klinis ke manusia dalam skala kecil untuk memastikan keamanan dan dosis, serta efektivitasnya. Uji klinis ini melibatkan sejumlah institusi, di antaranya RS Persahabatan, RS Islam Cempaka Putih, Etana, dan CanSino Incorporation dari Tiongkok.

“Kalau sudah berhasil sampai uji coba tahap 3 ke hewan, baru uji klinis fase 1 ke manusia,” ujarnya.

Berbeda dengan M72 yang diberikan melalui suntikan, vaksin inhalasi diberikan dalam bentuk uap halus yang dihirup oleh Orang Dengan TB (ODTB). Metode ini memungkinkan vaksin masuk langsung ke paru-paru dan menstimulasi kekebalan lokal di organ tersebut.

Prof. Erlina memastikan vaksin inhalasi akan menjadi terobosan besar dalam upaya eliminasi TB di Indonesia. Inovasi mengatasi tantangan Dalam diskusi tersebut, dia juga disinggung mengenai kendala yang mungkin datang dari golongan anti vaksin. Namun, menurutnya, tidak akan jadi masalah jika ada kerja sama lintas sektor, termasuk media.

“Kalau jurnalis membantu beri edukasi ke masyarakat, akan banyak narasi positif. Narasinya harus dibuat bagus agar usaha peneliti tidak sia-sia,” tuturnya.

Stop TB Partnership Indonesia (STPI) Stop TB Partnership Indonesia adalah platform kemitraan lintas sektor yang mendukung Program TB Nasional. Dengan 75 mitra lokal dan internasional, STPI mendorong sinergi antar pemangku kepentingan demi percepatan eliminasi tuberkulosis. Didirikan oleh Arifin Panigoro, STPI memiliki Dewan Direksi dan Dewan Penasehat yang terdiri dari para profesional kesehatan masyarakat, akademisi, praktisi klinis, perwakilan lembaga pembangunan, serta sektor swasta.(Regina)

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *