Cirebon Power Siapkan SDM dan Strategi Hadapi Tantangan Operasional 2026
Cirebon,- PT Pembangkit Listrik Cirebon Power menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan penguatan budaya kerja dalam menghadapi tantangan operasional tahun 2026.
Komitmen tersebut disampaikan melalui gelaran Town Hall Meeting 2026, yang menjadi ruang dialog terbuka antara manajemen dan karyawan.
Berbeda dari sekadar forum evaluasi, Town Hall Meeting ini diarahkan sebagai ajang menyatukan visi seluruh insan perusahaan agar lebih adaptif, disiplin terhadap keselamatan, dan fokus pada efisiensi pembangkit.
Deputy Operation Manager PLTU Cirebon 2, Farid Hentihu menyampaikan forum ini menjadi sarana untuk menyelaraskan pemahaman seluruh karyawan terhadap arah dan tantangan perusahaan ke depan.
“Kami tidak hanya menyampaikan capaian, tetapi juga mengajak seluruh karyawan memahami apa yang akan kita hadapi di 2026 dan bagaimana peran masing-masing,” ujarnya.
Salah satu fokus utama yang ditekankan adalah budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai fondasi operasional. Sepanjang 2025, perusahaan secara konsisten menjalankan berbagai program K3, mulai dari kampanye Bulan K3 hingga penguatan pelaporan keselamatan melalui Safety Operation Card (SOC).
Menurut Farid, keselamatan bukan sekadar prosedur, melainkan bagian dari sikap dan kebiasaan kerja sehari-hari.
“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Kami ingin setiap karyawan memiliki kesadaran yang sama dalam menjaga diri dan lingkungan kerja,” katanya.
Selain keselamatan, perusahaan juga mendorong keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan karyawan. Beragam aktivitas olahraga rutin digelar sebagai upaya menjaga kebugaran fisik sekaligus memperkuat kebersamaan tim.
Dari sisi operasional, Cirebon Power mencatat performa positif sepanjang 2025, termasuk peningkatan produksi listrik dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut dinilai sebagai hasil kerja kolektif seluruh tim, meski dihadapkan pada dinamika teknis pembangkit.
“Kami tentu menemui tantangan, seperti gangguan teknis atau trip, namun secara umum kinerja pembangkit tetap terjaga sesuai target,” jelas Farid.
Salah satu indikator utama yang berhasil dipertahankan adalah availability factor, yang menunjukkan tingkat kesiapan pembangkit dalam memasok listrik.
Memasuki 2026, tantangan baru pun menanti, terutama dalam meningkatkan efisiensi pembangkit. Salah satu indikator yang menjadi perhatian serius adalah heat rate, yang mencerminkan efisiensi penggunaan energi bahan bakar.
“Heat rate menjadi fokus penting ke depan. Ini bukan hanya tanggung jawab teknis, tapi perlu dipahami seluruh karyawan agar pembangkit bisa beroperasi lebih efisien,” tegasnya.
Melalui Town Hall Meeting 2026, Cirebon Power menegaskan tekad untuk terus membangun pembangkit yang andal, aman, dan efisien, dengan SDM yang solid dan siap menghadapi tantangan.
“Kami ingin memastikan Cirebon Power tetap menjadi pembangkit yang siap berkontribusi optimal bagi sistem kelistrikan nasional,” tutup Farid. (HSY)














