dr. Edial Sanif Kembali Pimpin PMI Kota Cirebon 2026–2031, Fokus Konsolidasi Organisasi
dr. Edial Sanif kembali dipercaya memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Cirebon untuk masa bakti 2026–2031. Ia terpilih dalam Musyawarah Kota (Muskot) XIX yang digelar di Aula PMI Kota Cirebon, Jalan Sudarsono, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri pengurus PMI Provinsi Jawa Barat, dr. Tjatja Kuswara, serta peserta Muskot yang terdiri dari jajaran pengurus dan relawan PMI Kota Cirebon.
Usai terpilih, dr. Edial menegaskan bahwa langkah awal yang akan dilakukan adalah memperkuat konsolidasi internal organisasi. Menurutnya, hal itu menjadi fondasi utama sebelum menjalankan berbagai program kerja ke depan.
“Yang pertama tentu konsolidasi organisasi. Setelah itu, kita segera menyusun program kerja. Dalam waktu dekat, paling tidak satu bulan ke depan, kita harus sudah membentuk kepengurusan lengkap, melakukan sosialisasi organisasi, serta mematangkan program kerja yang akan dijalankan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya untuk memimpin PMI Kota Cirebon. Selain itu, ia menekankan pentingnya peran media dalam mendukung kegiatan kemanusiaan.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Peran media selama ini sangat membantu PMI dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat. Ke depan, kami berharap sinergi ini semakin baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Edial turut menyoroti tantangan dalam pemenuhan stok darah, khususnya untuk golongan darah langka seperti rhesus negatif. Ia menyebut, PMI Kota Cirebon termasuk daerah yang memiliki komunitas pendonor rhesus negatif di Jawa Barat.
“Rhesus negatif ini sangat khusus dan jumlahnya terbatas. Tidak bisa sembarangan, karena penerima dengan rhesus negatif hanya bisa menerima dari donor dengan rhesus yang sama. Alhamdulillah, kita memiliki komunitasnya, bahkan daerah lain sering meminta bantuan ke Cirebon,” jelasnya.
Selain itu, PMI Kota Cirebon telah memiliki database pendonor yang terus diperbarui. Dengan metode terbaru, donor darah kini dapat dilakukan setiap dua bulan sekali, lebih cepat dibandingkan sebelumnya yang umumnya tiga bulan.
“Ada pendonor yang sudah lebih dari 100 kali, bahkan mencapai 115 kali donor. Untuk yang mencapai 100 kali biasanya mendapat penghargaan dari Presiden,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa donor darah bersifat sukarela tanpa dibatasi domisili. Banyak pendonor yang tetap kembali ke Cirebon untuk mendonorkan darahnya meski telah berpindah tempat tinggal.
“Donor itu soal keikhlasan, tidak dibatasi domisili. Bahkan ada yang sudah pindah ke luar kota, tapi saat donor tetap kembali ke Cirebon,” ujarnya.
Dengan kepemimpinan yang kembali diembannya, dr. Edial berharap PMI Kota Cirebon semakin solid dan mampu meningkatkan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan darah serta respons terhadap berbagai situasi darurat.**














