Desa Mungkal Datar, Jejak Sejarah dan Harmoni Sosial di Ciniru Kuningan

KUNINGAN – Di tengah bentang alam dataran dan perbukitan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, berdiri sebuah desa kecil yang menyimpan sejarah panjang dan kehidupan sosial yang kuat. Desa itu bernama Mungkal Datar, sebuah wilayah yang lahir dari proses pemekaran desa pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Meski belum setenar daerah lain di Jawa Barat, Desa Mungkal Datar menjadi contoh nyata bagaimana sebuah komunitas mampu bertahan dan berkembang sejak tahun 1945 hingga saat ini. Desa ini secara administratif berada di Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Mungkal Datar merupakan hasil pemekaran dari Desa Longkewang. Saat awal berdiri, jumlah penduduknya diperkirakan hanya sekitar 250 jiwa dengan sekitar 80 rumah yang tersebar di wilayah tersebut.

“Pemekaran ini dulu bukan sekadar urusan administrasi, tapi karena masyarakat membutuhkan pemerintahan yang lebih dekat dan mandiri untuk mengatur kehidupan desa,” ujar salah seorang sesepuh desa.

Nama Mungkal Datar sendiri memiliki makna filosofis yang kuat. Dalam bahasa Sunda kuno, mungkal berarti batu, sementara datar berarti rata. Secara harfiah, Mungkal Datar berarti batu datar. Nama ini merujuk pada sebuah batu besar yang berada di tengah permukiman warga dan hingga kini masih menjadi penanda wilayah desa.

“Batu itu sudah ada sejak dulu dan jadi titik kumpul warga. Sampai sekarang masih dianggap simbol desa,” kata warga lainnya.

Secara geografis, Desa Mungkal Datar berbatasan dengan Kelurahan Citangtu atau Cibinuang di sebelah utara, Desa Kadatuan Kecamatan Garawangi di timur, Desa Rambatan Kecamatan Ciniru di selatan, serta Desa Longkewang Kecamatan Ciniru di sebelah barat. Letak ini menjadikan Mungkal Datar berada di pertemuan beberapa desa penting yang saling terhubung secara sosial dan ekonomi.

BACA JUGA :  Pemkot Cirebon Dukung Reaktivasi Jalur Kereta dan Optimalisasi Bandara Kertajati

Setelah resmi berdiri, masyarakat segera membentuk struktur pemerintahan desa. Kepala desa dan perangkatnya dipilih melalui musyawarah warga, sebagai wujud demokrasi di tingkat paling dasar.

Mayoritas penduduk Desa Mungkal Datar menggantungkan hidup dari sektor pertanian, perkebunan, serta usaha kecil menengah. Kondisi tanah yang subur membuat banyak warga menanam sayuran, mengelola kebun kopi, hingga beternak secara mandiri.

“Sebagian besar warga di sini petani. Ada yang berkebun kopi, ada juga yang beternak kecil-kecilan,” tutur seorang warga.

Ikatan sosial di desa ini terbilang kuat. Nilai gotong royong masih dijaga, mulai dari kerja bakti, pembangunan infrastruktur sederhana, hingga saling berbagi hasil panen.

Dalam kehidupan budaya, tradisi lokal masih dijunjung tinggi. Warga rutin menggelar selamatan kampung, peringatan hari besar keagamaan, serta ritual adat yang diwariskan turun-temurun.

“Kalau Maulid Nabi, biasanya kami kumpul, doa bersama, pengajian, lalu makan bareng. Itu jadi momen silaturahmi,” ungkap warga lainnya.

Sejarah Desa Mungkal Datar bukan hanya deretan angka dan data administratif. Ia adalah cerita tentang sebuah komunitas yang lahir dari pemekaran desa, membangun identitas sendiri, menjaga tradisi, dan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Desa ini menjadi bukti bahwa wilayah kecil pun memiliki narasi sejarah yang kuat, kehidupan sosial yang dinamis, serta peran penting dalam pembangunan daerah.**

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *