Kemenimipas Perkuat Bapas dan BLK untuk Siapkan WBP Kembali ke Masyarakat
Cirebon,- Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) menekankan pentingnya penguatan Balai Pemasyarakatan (Bapas) dan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai fondasi utama dalam mempersiapkan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kembali ke tengah masyarakat.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto mengatakan pemisahan Kemenimipas dari Kementerian Hukum dan HAM membuat pelaksanaan tugas pemasyarakatan menjadi lebih terarah, terutama dalam aspek pembinaan dan pendampingan WBP sejak proses hukum hingga pasca-pemidanaan.
“Dengan Undang-undang KUHP yang baru, peran Bapas menjadi sangat strategis. Pendampingan dilakukan sejak proses ajudikasi sampai mereka kembali ke masyarakat,” ujar Agus saat kunjungan kerja di Lapas Kelas I Cirebon, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, Kemenimipas terus mendorong kesiapan BLK di seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan negara (rutan), dengan dukungan aktif dari Bapas. BLK menjadi sarana utama pembekalan keterampilan agar WBP memiliki kemampuan kerja yang konkret setelah menjalani masa pidana.
Pendampingan tersebut diperkuat oleh Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang memastikan proses pembinaan berjalan berkelanjutan, termasuk bagi WBP yang menjalani hukuman alternatif seperti kerja sosial.
“Pada fase pasca-ajudikasi, pendampingan tetap dilakukan. Tujuannya agar mereka benar-benar siap beradaptasi, produktif, dan tidak kembali melakukan pelanggaran hukum,” jelas Agus.
Ia menambahkan, model pembinaan yang terintegrasi ini turut berdampak pada meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi hasil karya WBP. Bahkan, sejumlah produk telah memenuhi standar pasar internasional dan menembus ekspor ke berbagai negara.
Agus menyebutkan, penerapan sistem zonasi produksi antar lapas menjadi strategi menjaga kesinambungan pembinaan dan produksi, sehingga WBP tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga pengalaman kerja yang berorientasi pasar.
Saat ini, produk hasil pembinaan WBP seperti kantong ramah lingkungan, panel surya, hingga komoditas perikanan telah dipasarkan ke delapan negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, dan Korea Selatan.
“Kami ingin model pembinaan ini diperluas ke daerah lain, agar lapas benar-benar menjadi tempat pembinaan yang produktif dan berdampak,” pungkasnya. (HSY)














